Tahu rasanya lega saat kita bisa menyelesaikan tepat waktu? Benar-benar membahagiakan batin kita. Saya merasa kayak orang normal lainnya. Jangan ditanya soal kualitas ya. Nah, perasaan ini juga menghampiri saya saat men-submit Cerpen ke panitia lomba.
Mungkin ada rekan-rekan yang melihatnya biasa saja. Itu sah saja. Tapi ini benar-benar pengalaman saya menulis cerpen pertama kali. Saya menilainya berhasil karena sudah wujud cerita utuh: ada tokoh, ada konflik, dan ada ending .
Namun bukan soal Cerpen yang hendak dibahas. Saya tahu dirilah tentang kualitas. Yang ingin saya bagikan adalah bagaimana saya bisa menyelesaikannya tepat waktu, padahal itu pertama kalinya. Dan itu adalah sebuah Cerpen gitu lho. Ini dia tipnya.
Pertama, ada paksaan meskipun atas sesuatu yang kita sukai. Apa itu? Batas waktu atau batas waktu beserta iming-iming hadiah. Suka enggak suka inilah yang terjadi pada saya. Saat itu, cukup bagi saya untuk menulis dan memenuhi deadline , sekitar satu minggu sampai Cerpen dikirim. Yang tidak kalah penting adalah soal hadiah. Menariknya, hadiah itu bukan saja bagi pemenang. Bagi yang hanya bisa memenuhi persyaratan pun dapat hadiah. Dan ini incaran saya, yaitu dapat e-book menulis Cerpen dan gratis ikut kursus menulis berani.
Kedua, mencari mentor dan reviewer. Prinsip saya, kalau mau cepat, ya cari pembimbing yang percayai: soal kemampuannya atau soal kemudahan aksesnya. Untuk itu saya langsung pergi dan berguru ke empu Cerpen Indonesia, Seno Gumira Ajidarma. Wuih…keren.
Jangan menuduh bahwa saya punya hubungan dan akses langsung ke beliau. Salah besar. Saya cuman ambil kumpulan Cerpennya, “Senja dan Cinta yang Berdarah”. Buku ini pun hadiah dari Pak Kunta, sekarang menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan. Alias gratis…hidup pejuang gratisan!
Lho terus soal ide dan jalan cerita kok enggak dibahas. Ingat, cuman seminggu coy ! Masalah ide dan jalan cerita harus sudah mengeram di kepala kita. Semua orang hidup pasti memiliki cerita masing-masing. Itu terserak di seputar kita. Dan itu bahan dasarnya. Artinya, selama seminggu itu saya meletakkannya dan melihat lagi apakah urutan logistik kejadiannya. Jadi, hanya masalah teknis cara menuangkannya. Galau pasti itu , lha wong pertama kali. Tenang, karena ini ada solusinya.
Terus apa yang harus dilakukan di atas buku Seno Gumira Ajidarma itu? Metode Pakai ATM: amati, tiru, dan modifikasi. Saya ambil satu judul 'Petai' dan cerita tiga kali, pokoknya saya sampai hafal jalan pikiran tokoh utama dan isu atau cerita yang dibangkitkan. Mungkin ada yang bertanya: mengapa memilih 'Petai' bukan Cerpen yang lain. basa-basi enggak ruwet. Panjang ceritanya cukup pendek untuk sebuah Cerpen, sekitar 800 kata. Setting cerita berada di seputar warung makan dan rumah. Dan tokohnya cuman ada tiga orang saja.
Langkah selanjutnya adalah mencari reviewer selama proses menulis. Tujuannya adalah untuk memberikan umpan balik. Sekali lagi jangan menuduh bahwa saya memiliki kemewahan karena didukung pengulas yang berstatus Cerpenis wahid. Sekali lagi, Anda salah. Reviewer saya ini adalah teman sesama penggiat komunitas literasi BnD (Bukan Nota Dinas) di Direktorat Jenderal Anggaran, Bu Rini Ariviani. Alasan memilihnya juga sederhana. Saya pernah membaca karya Cerpennya. Artinya, sudah terbukti bahwa Bu Rini pernah menulis sebuah cerita, bukan esai. Alasan yang terpenting adalah kemungkinan besar Bu Rini mau menjadi mentor saya dengan alasan pertemanan.
Ketiga, ini bagian terpenting. Saya harus mengisi tulisan saat ini juga karena ada warga yang meminta surat pengantar. Ya, saya adalah Pak RT, seperti cerita dalam Cerpen yang diikutkan dalam lomba. Kalau mau berlanjut, silahkan klik like dan saya teruskan tips berikutnya. Kalau tidak seperti tulisan ini, saya akan tetap melanjutkannya juga...tapi kapan-kapan ya.






0 komentar:
Posting Komentar