CERPEN SEBUAH JALAN Bagian 2

 


Jika pertanyaan ini saya ajukan, “Masih menunggu tulisan saya?


Saya pastikan, Anda serempak merespons dengan nada kesal, “Memangnya siapa kamu? Penulis terkenal?”


Jelas bukan. Sekali lagi maaf, saya hanya membagikan sedikit pengalaman menulis Cerpen pertama kali untuk bagian dua. Kok sampai ada 2 bagian sih? Ya, karena saya tidak memiliki napas panjang dalam bercerita. Jadi, saya ambeg'an disit. Lanjut.


Bagian tiga, tulis saja yang ada di kepala. Pada bagian ini, saya langsung menuliskan cerita pertama kali berdasarkan ingatan dan pengalaman asli: tokoh, nama, dan setting tempat. Ya, semua itu nyata. Tujuannya adalah agar saya bisa lancar menggulirkan cerita dari satu adegan ke adegan berikutnya. Karena pengalaman nyata, saya tinggal menuliskan dan saya berhasil menyelesaikan cerita sampai akhir. Nah, apakah menghasilkan cerita menarik? Kenyataannya, hasil tulisan awal memang datar tanpa gejolak. Tokoh-tokohnya pun kurang ekspresif. Tidak ada tokoh yang ekspresinya meledak-ledak kalau marah. Semuanya tidak ada greget dari sisi alur cerita dan penokohannya.


Padahal tulisan sudah panjang banget dari teknik ini, sekitar 18 halaman A4 dan spasi 1,5. Bagaimana tidak panjang, lha wong saya harus menceritakan yang diungkapkan dari ekspresi tiap tokoh. Rencananya, biarlah cerita terlihat. Namun pas dibaca ulang, saya bosan dengan cerita versi asli ini. Apakah saya menyerah? Hampir. Karena terbayang-bayang hadiah berupa e-book dan kursus menulis Cerpen gratis-nya, saya memaksakan diri melanjutkannya.


Bagian empat, ubah ekspresi tokoh dan ubah reaksi si tokoh dalam menghadapi suatu kejadian. Ini bagian akhir tips saya. Di bagian ini saya mencoba mengubah-ubah kejadian dan reaksi tokoh: bagaimana kalau kejadian itu menjadi seperti ini dan itu; bagaimana satu reaksi tokoh atas suatu kejadian. Dan akhirnya, aksi-reaksi para tokoh ini menjadi sebuah cerita yang benar-benar fiksi, tidak lagi seperti versi awal. Saya juga mendapat emosi dari cerita itu. Nyatanya, emosi ini sangat berpengaruh terhadap ekspresi tokoh-tokoh yang terlibat dalam pergerakan cerita. Barulah pada tahap ini saya menemukan arti sebuah karya fiksi. Saya mengartikan sak enak udele dewe dengan batasan seluas imajinasi kita.


Mau mencoba menulis Cerpen seperti saya? Cepat dicoba sebelum saya patenkan lho metode ini.

CERPEN, SEBUAH JALAN

 Tahu rasanya lega saat kita bisa menyelesaikan tepat waktu? Benar-benar membahagiakan batin kita. Saya merasa kayak orang normal lainnya. Jangan ditanya soal kualitas ya. Nah, perasaan ini juga menghampiri saya saat men-submit Cerpen ke panitia lomba.

Mungkin ada rekan-rekan yang melihatnya biasa saja. Itu sah saja. Tapi ini benar-benar pengalaman saya menulis cerpen pertama kali. Saya menilainya berhasil karena sudah wujud cerita utuh: ada tokoh, ada konflik, dan ada ending .

Namun bukan soal Cerpen yang hendak dibahas. Saya tahu dirilah tentang kualitas. Yang ingin saya bagikan adalah bagaimana saya bisa menyelesaikannya tepat waktu, padahal itu pertama kalinya. Dan itu adalah sebuah Cerpen gitu lho. Ini dia tipnya.

Pertama, ada paksaan meskipun atas sesuatu yang kita sukai. Apa itu? Batas waktu atau batas waktu beserta iming-iming hadiah. Suka enggak suka inilah yang terjadi pada saya. Saat itu, cukup bagi saya untuk menulis dan memenuhi deadline , sekitar satu minggu sampai Cerpen dikirim. Yang tidak kalah penting adalah soal hadiah. Menariknya, hadiah itu bukan saja bagi pemenang.   Bagi yang hanya bisa memenuhi persyaratan pun dapat hadiah. Dan ini incaran saya, yaitu dapat e-book menulis Cerpen dan gratis ikut kursus menulis berani.

Kedua, mencari mentor dan reviewer. Prinsip saya, kalau mau cepat, ya cari pembimbing yang percayai: soal kemampuannya atau soal kemudahan aksesnya. Untuk itu saya langsung pergi dan berguru ke empu Cerpen Indonesia, Seno Gumira Ajidarma. Wuih…keren.

Jangan menuduh bahwa saya punya hubungan dan akses langsung ke beliau. Salah besar. Saya cuman ambil kumpulan Cerpennya, “Senja dan Cinta yang Berdarah”. Buku ini pun hadiah dari Pak Kunta, sekarang menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan. Alias ​​gratis…hidup pejuang gratisan!

Lho terus soal ide dan jalan cerita kok enggak dibahas. Ingat, cuman seminggu coy ! Masalah ide dan jalan cerita harus sudah mengeram di kepala kita. Semua orang hidup pasti memiliki cerita masing-masing. Itu terserak di seputar kita. Dan itu bahan dasarnya. Artinya, selama seminggu itu saya meletakkannya dan melihat lagi apakah urutan logistik kejadiannya. Jadi, hanya masalah teknis cara menuangkannya. Galau pasti itu , lha wong pertama kali. Tenang, karena ini ada solusinya.

Terus apa yang harus dilakukan di atas buku Seno Gumira Ajidarma itu? Metode Pakai ATM: amati, tiru, dan modifikasi. Saya ambil satu judul 'Petai' dan cerita tiga kali, pokoknya saya sampai hafal jalan pikiran tokoh utama dan isu atau cerita yang dibangkitkan. Mungkin ada yang bertanya: mengapa memilih 'Petai' bukan Cerpen yang lain. basa-basi enggak ruwet. Panjang ceritanya cukup pendek untuk sebuah Cerpen, sekitar 800 kata. Setting cerita berada di seputar warung makan dan rumah. Dan tokohnya cuman ada tiga orang saja.

Langkah selanjutnya adalah mencari reviewer selama proses menulis. Tujuannya adalah untuk memberikan umpan balik. Sekali lagi jangan menuduh bahwa saya memiliki kemewahan karena didukung pengulas yang berstatus Cerpenis wahid. Sekali lagi, Anda salah. Reviewer saya ini adalah teman sesama penggiat komunitas literasi BnD (Bukan Nota Dinas) di Direktorat Jenderal Anggaran, Bu Rini Ariviani. Alasan memilihnya juga sederhana. Saya pernah membaca karya Cerpennya. Artinya, sudah terbukti bahwa Bu Rini pernah menulis sebuah cerita, bukan esai. Alasan yang terpenting adalah kemungkinan besar Bu Rini mau menjadi mentor saya dengan alasan pertemanan.

Ketiga, ini bagian terpenting. Saya harus mengisi tulisan saat ini juga karena ada warga yang meminta surat pengantar.  Ya, saya adalah Pak RT, seperti cerita dalam Cerpen yang diikutkan dalam lomba.  Kalau mau berlanjut, silahkan klik  like  dan saya teruskan tips berikutnya.  Kalau tidak  seperti  tulisan ini, saya akan tetap melanjutkannya juga...tapi kapan-kapan ya.